Catatan Kritis untuk KSP Dudung Soal Pengawasan MBG dan Sekolah Rakyat
Oleh: kang oby kresna.
"Kalau tidak benar pelaksanaan di lapangan, akan saya babat nanti." Kalimat itu meluncur tegas dari Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman di Kongres VII PIKI, Jakarta, 30 April lalu. Gagah. Berwibawa. Layak jadi headline.
Tapi di Majalengka, di Cisolok, di pelosok-pelosok Jawa Barat, rakyat bertanya pelan:
"Babat"-nya pakai apa, Jenderal ? Parang, atau sekadar mikrofon?
Sebab faktanya hari ini Yang "dibabat" duluan bukan oknum penyeleweng. Tapi anak sekolah.
Dibabat lapar karena menu Makan Bergizi Gratis isinya nasi keras dan tempe gosong.
Dibabat malu karena atap sekolahnya ambruk lebih dulu daripada dapur MBG-nya berdiri.
Dibabat harapan karena uang sewa tanah desa untuk dapur hanya jadi "uang rokok" oknum.
Tiga Catatan Kritis untuk Janji "Babat" KSP Ini ceritanya : Standar "Tidak Benar" Milik Siapa ?
Di atas kertas laporan, semua program "benar". Foto-foto tersenyum. SPJ kinclong. Realisasi 100%.
Tapi di lapangan, emak-emak merekam nasi basi. Anak-anak pingsan karena keracunan.
KSP mau dengar laporan "ABS" Asal Bapak Senang, atau jeritan perut anak bangsa yang tak bisa berbohong ?
Jangan sampai "mata dan telinga" yang dipasang hanya untuk hal-hal "positif", hingga menutup mata pada fakta negatif. Kenapa Narasi "Babat" Baru Muncul Sekarang ?
Program MBG dan Sekolah Rakyat sudah berjalan berbulan-bulan. Korban maladministrasi sudah berjatuhan. Ada yang dapat lauk kuah doang. Ada yang lahannya disewa tanpa izin BPD dan Bupati.
Publik bertanya Di mana "parang" KSP selama ini ? Jangan sampai publik menilai ini hanya "pemadam kebakaran": baru bergerak setelah rumah terlanjur jadi abu dan viral di TikTok.
"Membabat" Itu Kata Kerja, Bukan Kata Benda.
Rakyat sudah kenyang dengan pidato "tegas", "akan menindak", "tidak akan mentolerir". Yang rakyat lapar adalah tindakan nyata.
Babat itu artinya : audit investigatif ke dapur-dapur bermasalah, seret vendor nakal ke APH, umumkan ke publik siapa "pemain" sewa tanah desa ilegal, bahkan jika ada "aparat" di belakangnya. Pak KSP, rakyat tidak anti program MBG. Program ini mulia.
Yang rakyat lawan adalah cara-cara kotor yang menunggangi program mulia ini. Maka izinkan kami menagih janji "babat" itu, Pak.
Mulai dari Cisolok, Sukabumi. Di sana ada dugaan sewa tanah kas desa untuk dapur yang tidak jelas izin Bupati dan BPD-nya.
Mulai dari Majalengka. Di sana ada SDN yang ambruk, sementara anggaran perbaikannya dipertanyakan.
Data, video, dan kesaksian warga sudah kami siapkan. Tinggal Bapak pilih Mau tercatat sejarah sebagai "KSP yang Membabat", atau "KSP yang Dibabat" oleh janji sendiri ?
Sebab Pak, perut rakyat tidak bisa dibohongi pidato. Tapi perut rakyat bisa kenyang oleh ketegasan.
Kami tunggu "babatan" pertama Bapak. Bukan di podium. Tapi di lapangan. Dan pelakunya masuk penjara.
Salam dari warga yang lelah jadi penonton.
Redaksi RNO


