Gambar

Gambar

Iklan

kertajati, Menara Berpikir, Dan Kedaulatan

Redaksi one
Jumat, 29 Mei 2026
Last Updated 2026-05-29T19:04:28Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

 


Real news one- majalengka,Izinkan saya mengajak sejenak kita turun dari riuh media sosial, lalu naik ke menara berpikir. Karena hoax tidak pernah bisa dilawan dengan hoax. Fitnah tidak pernah bisa dipadamkan dengan makian. Ia hanya bisa diluruskan dengan tiga cahaya: data, logika, dan nurani.


Hari ini kita diuji oleh sebuah narasi yang keras dan meresahkan: “Kertajati telah menjadi pangkalan militer Amerika Serikat.” Kalimat itu pendek, tapi gema-nya panjang. Ia menyentuh saraf paling sensitif bangsa ini dan kedaulatan.


Mari kita bedah bersama, bukan dengan amarah, tapi dengan akal sehat.


Dari mana kita tahu mana yang benar ? Dalam tradisi filsafat ilmu, kebenaran itu bertingkat. Ada yang sebatas “katanya”, ada yang berupa “dugaan”, dan ada yang berdiri di atas “bukti yang bisa diverifikasi sumbernya”. Bukti yang terakhir inilah yang paling kokoh.


PT Bandarudara Internasional Jawa Barat, BIJB, sebagai subjek hukum yang sah dan satu-satunya pengelola Kertajati, telah menyampaikan kesaksian resmi pada 29 Mei 2026. Pernyataan itu disampaikan juru bicaranya dan diberitakan Kompas.com. Isinya tegas dan tidak bertele-tele, terdiri dari tiga peniadaan: nihil personel militer Amerika Serikat, nihil senjata atau peralatan militer Amerika Serikat, dan nihil kerja sama militer antara BIJB dengan negara asing mana pun. Dalam kaidah ilmu dan hukum, kesaksian dari pihak yang paling berwenang memiliki kedudukan tertinggi sampai ada bukti tandingan yang setara. Menolak kesaksian itu tanpa menghadirkan bukti tandingan, sama artinya menolak prinsip dasar yang diajarkan Aristoteles lebih dari dua ribu tahun lalu “Yang menuduh, wajib membuktikan.” Beban pembuktian selalu ada di pundak penuduh, bukan di pundak yang dituduh.


Lalu apa hakikat Kertajati itu sendiri ? Kertajati bukan sekadar hamparan beton dan aspal sepanjang tiga ribu meter. Ia adalah perwujudan cita-cita. Cita-cita Jawa Barat agar anak cucunya tidak harus menempuh empat jam ke Jakarta dulu untuk bisa terbang ke dunia. Cita-cita agar petani Majalengka bisa mengirim mangganya langsung ke Timur Tengah tanpa perantara panjang. Cita-cita agar denyut ekonomi timur Jawa Barat tumbuh dari dalam, bukan menunggu kiriman dari barat.


Sebaliknya, apa hakikat “pangkalan militer asing”? Ia adalah aneksasi ruang kedaulatan. Ia adalah jejak sepatu bot asing yang menjejak tanah air sendiri. Dan di sinilah logika dasar bekerja. Antara “cita-cita ekonomi rakyat” dan “aneksasi militer asing” itu bertentangan secara hakiki. Air dan api tidak bisa tinggal serumah. Pemerintah, TNI, rakyat, dan seluruh sistem hukum Indonesia tidak mungkin lalai kolektif membiarkan api itu masuk ke rumah sendiri. Jika itu benar terjadi, maka yang runtuh bukan hanya Kertajati, tetapi seluruh teori tentang negara yang kita bangun sejak 17 Agustus 1945.


Nilai tertinggi bangsa ini sudah dirumuskan para pendiri dalam satu kalimat pendek yang abadi: Kedaulatan Rakyat. Pasal 1 Undang-Undang Dasar 1945. Menjaga kedaulatan itu ada dua jalurnya. Pertama, menyerang ketika ada agresi nyata. Itu tugas TNI. Kedua, menjaga kewarasan publik ketika ada agresi informasi. Dan itu tugas kita semua.


Foto bendera Amerika Serikat yang menjadi bahan bakar utama viralnya isu ini, setelah ditelusuri, ternyata lahir dari sebuah acara yang jauh dari nuansa militer. Ia adalah artefak dari acara Pengukuhan Pengurus Komite Masyarakat Ekonomi Syariah Kertajati pada 15 Mei 2026. Bendera itu adalah simbol transaksi dagang, simbol kerja sama ekonomi, bukan simbol dominasi senjata. Menyamakan bendera acara syariah dengan bendera markas militer, sama seperti menyamakan spanduk pasar murah Ramadan dengan deklarasi perang. Logikanya terpeleset jauh.


Maka pertanyaannya bergeser. Apakah kita rela menukar nilai “kemajuan bersama” dengan “kecurigaan buta”? Apakah kita tega membunuh masa depan Kertajati hanya demi sensasi lima menit di beranda media sosial? Kerugian yang akan kita tanggung bersama jauh lebih nyata: investor menahan diri, maskapai ragu membuka rute, dan cap “tidak aman” menempel di dahi Jawa Barat. Padahal luka Kertajati selama ini adalah sepi, bukan karena dijajah.


Al-Qur’an telah memberi kita protokol paling canggih untuk menghadapi badai informasi, empat belas abad sebelum internet ditemukan. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” – QS. Al-Hujurat ayat 6. Perintah “tabayyun” itu bukan hanya perintah ibadah. Ia adalah benteng pertahanan terakhir sebuah peradaban. Tabayyun adalah cara kita menjaga lisan, menjaga jari, dan menjaga masa depan anak cucu kita. Diam seribu bahasa yang lahir dari berpikir, kadang memiliki nilai yang lebih tinggi daripada seribu komentar yang lahir dari emosi.


Saya tidak meminta saudara percaya kepada saya. Saya hanya meminta saudara percaya pada logika, pada data resmi, dan pada nurani sendiri. Kritik Kertajati kalau sepi ? Boleh, itu bentuk cinta. Saya sendiri sering mengkritik kebijakan pemerintah daerah jika tidak menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Koreksi pengelola kalau salah ? Wajib, itu bentuk kontrol. Tapi memfitnah Kertajati “dikuasai asing” tanpa bukti? Maaf, itu bukan kritik. Itu bunuh diri kolektif.


Kertajati akan tetap berdiri di sana. Betonnya mungkin retak dan perlu perbaikan, tapi kedaulatannya tidak boleh retak oleh narasi liar. Tanahnya tetap tanah Sunda, langitnya tetap langit Indonesia, penjaganya tetap prajurit Merah Putih, dan pengelolanya tetap anak bangsa.


NKRI Harga Mati bukan sekadar slogan yang diteriakkan saat upacara. Ia adalah konsekuensi logis dari akal sehat yang dipandu iman.


Jika tulisan ini membuat saudara berhenti sejenak dan berpikir ulang sebelum menekan tombol bagikan, maka misi saya sudah selesai. Jika membuat saudara marah, mari kita duduk bersama, adu data, bukan adu emosi. Karena kami, yang berprofesi sebagai jurnalis, menjunjung tinggi integritas. Bagi kami, berita harus berimbang: ada apresiasi ketika benar, ada kritik ketika salah, tapi tidak ada ruang untuk fitnah.


Oleh kang oby Kresna


Redaksi RNO

Sumber: Siaran Pers PT BIJB 29 Mei 2026, Kompas.com Regional 29/05/2026, QS Al-Hujurat ayat 6

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl