Gambar

Gambar

Iklan

Aceng Syamsul Hadie: Momentum Lailatul Qadar Sebagai Titik Awal Menuju Kebangkitan Peradaban Islam

REDAKSIONE
Senin, 09 Maret 2026
Last Updated 2026-03-10T04:23:12Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


THE REAL NEWS ONE– Setiap tahun umat Islam menantikan Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Malam ini diyakini sebagai malam paling mulia, bahkan lebih baik dari seribu bulan. Namun dalam praktiknya, Lailatul Qadar sering dipahami hanya sebagai momentum memperbanyak ibadah ritual: shalat malam, doa, dan dzikir. Padahal jika dilihat secara lebih mendalam, Lailatul Qadar memiliki makna yang jauh lebih besar. Ia bukan sekadar malam spiritual, tetapi juga titik awal kebangkitan peradaban Islam.


"Momentum Lailatul Qadar sebagai titik awal menuju kebangkitan peradaban Islam", ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. selaku Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam - Kasokandel Majalengka.


Aceng menjelaskan, dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa pada malam inilah wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar peristiwa religius, melainkan revolusi intelektual dan moral yang mengubah arah sejarah manusia. Dari sebuah malam di Gua Hira, lahir sebuah pesan ilahi yang kemudian membangun peradaban besar yang membentang dari Timur Tengah hingga Andalusia.


Aceng berpandangan, Perintah pertama dalam wahyu adalah iqra’—bacalah. Perintah ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak pernah terpisah dari ilmu pengetahuan. Islam sejak awal menempatkan ilmu sebagai fondasi utama peradaban. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam beberapa abad setelah turunnya wahyu, dunia Islam melahirkan tradisi keilmuan yang sangat maju. Para ilmuwan Muslim berkontribusi dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, hingga teknologi.


"Namun makna Lailatul Qadar tidak berhenti pada lahirnya tradisi ilmu. Kata qadar sendiri bermakna ketentuan atau ukuran. Dalam dimensi spiritual, malam ini diyakini sebagai saat di mana berbagai urusan kehidupan manusia ditetapkan oleh Allah untuk satu tahun ke depan. Tetapi secara filosofis, konsep ini juga mengandung pesan bahwa sejarah manusia berjalan dalam kerangka ketentuan Ilahi, sekaligus membuka ruang bagi usaha manusia untuk mengubah nasibnya", tambahnya.


Artinya, kebangkitan sebuah peradaban tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari perpaduan antara petunjuk wahyu dan kerja keras manusia untuk menerjemahkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.


Sayangnya, realitas dunia Islam hari ini justru menunjukkan paradoks. Umat yang dahulu memimpin peradaban ilmu kini banyak tertinggal dalam bidang pendidikan, teknologi, dan ekonomi. Konflik internal, krisis kepemimpinan, serta ketergantungan pada kekuatan global sering kali membuat dunia Islam kehilangan arah strategisnya.


Aceng memaparkan, dalam konteks inilah Lailatul Qadar seharusnya dimaknai kembali secara lebih luas. Malam ini bukan hanya momentum mencari pahala spiritual, tetapi juga saat untuk melakukan refleksi peradaban. Apakah umat Islam masih menjadikan wahyu sebagai sumber inspirasi untuk membangun ilmu, keadilan, dan kemajuan? Ataukah Ramadhan hanya berhenti pada ritual tahunan tanpa perubahan sosial yang berarti?


"Pesan terbesar dari Lailatul Qadar adalah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran spiritual yang mendalam. Dari kesadaran itulah lahir keberanian intelektual, integritas moral, dan komitmen untuk membangun masyarakat yang adil", ujarnya.


Sejarah telah membuktikan bahwa satu malam turunnya wahyu mampu melahirkan perubahan peradaban yang berlangsung selama berabad-abad. Karena itu, jika umat Islam ingin bangkit kembali, mereka tidak cukup hanya meromantisasi kejayaan masa lalu. Yang dibutuhkan adalah menghidupkan kembali semangat wahyu: menjadikan ilmu sebagai kekuatan, keadilan sebagai prinsip, dan kemanusiaan sebagai tujuan.


"Jika spirit ini mampu dihidupkan kembali, maka Lailatul Qadar tidak hanya menjadi malam yang dipenuhi doa dan ibadah, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan kembali peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh manusia", pungkasnya.(*)


*) Penulis Aceng Syamsul Hadie, S. Sos., MM selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan International).


*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi THE REAL NEWS ONE.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl