Gambar

Gambar

Marten Urio, Teman Kecil, dan Kompas Bernama Pancasila: Catatan Lintas Nusa dari Pedalaman Irian Barat

Tim Redaksi
Kamis, 01 Oktober 2026
Last Updated 2026-10-01T12:26:29Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
__Foto asli oleh Oby Kresna, Irian Barat - Teluk Wondama. Kamera Kodak - Belasan tahun lalu._

Di foto ini ada seorang anak kecil. Namanya Marten Urio. Dari Suku Pantai Teluk Wondama.


KOLOM Kang Oby Kresna:


Catatan dari lintas Nusa untuk hari lahir Pancasila.

 

MARTEN URIO, TEMAN KECIL, DAN KOMPAS BERNAMA PANCASILA.


Waktu Saya ini memotretnya, pulau itu masih bernama Irian Barat, belum menjadi Papua. Belum ada HP. Memotretnya masih pakai kamera Kodak yang harus dicuci seminggu baru jadi gambar.


Marten berdiri tanpa baju, hanya celana kuning. Di belakangnya, di atas papan kayu hitam, ada tulisan cat putih. Tulisan itu sengaja saya ini tulis sendiri untuk kenangan, agar teman kecil ini kelak dewasa mengenal Wawasan Nusantara: WEST PAPUA BANGSAKU NUSANTARAKU


Tulisannya belepotan. Tapi bagi saya ini, itulah Pancasila yang paling jujur.


Saya menyimpan foto ini belasan tahun. Dibawa keliling dari ujung timur ke ujung barat negeri ini.


Sebagai Wartawan kecil ini Saya pernah di Timor Timur, sebelum namanya berubah menjadi Timor Leste. Ketika bendera masih setengah tiang dan semua orang di pengungsian saling bertanya dengan suara pelan: "Kita ini masih Indonesia atau tidak?" Disitulah untuk pertama kalinya wartawan kecil ini melihat, betapa tipisnya batas antara tetap menjadi saudara atau menjadi orang asing.


Di Aceh, wartawan kecil ini pernah duduk berjam-jam menjamah para pejuang kemerdekaan di sebuah pondok kayu. Di mata mereka wartawan kecil ini tidak melihat kebencian pada Indonesia, tapi rindu yang dalam untuk didengarkan.


Di Poso, wartawan kecil ini melihat tetangga yang kemarin makan bersama, besok saling curiga karena beda sembahyang.


Di Sampit, wartawan kecil ini menjadi saksi bagaimana miskom kecil dan ego yang tinggi bisa membakar Kalimantan. Dayak dan Madura yang sebenarnya bersaudara di bawah pelukan sayap Garuda Pancasila.


Dan di hutan Irian Barat di ujung bumi cendrawasih ada rahasia bagi wartawan kecil ini pernah tersesat 3 hari 3 malam bersama pasukan yang kehabisan logistik dan baterai HT. Yang tersisa hanya kepercayaan.


Di semua tempat itu, tidak ada yang bertanya: kamu wartawan media apa? Kamu sudah UKW apa belum? Kamu dari lembaga mana? Kamu pejabat apa?


Yang ada hanya satu bisik pelan di tengah gelapnya rimba: "Kita masih percaya bisa pulang sebagai Indonesia?"


Hari ini 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila. Banyak yang upacara.


Wartawan kecil ini hanya ingin menunjukkan foto Marten Urio ini kepada para pejabat yang gajinya berlipat, kepada para senior yang terhormat, dan kepada rekan-rekan seprofesi yang saya hormati.


Wartawan kecil ini sadar, sering dipandang sebelah mata. Dianggap baru lahir. Mungkin karena wartawan kecil ini tidak pernah terlihat bergerombol di tiap sudut kantor dinas, tidak pernah punya ID Card yang mengkilap, dan tidak pernah berani bersuara keras hanya karena ada banyak teman di belakangnya.


Wartawan kecil ini tidak pernah ikut Uji Kompetensi Wartawan. Karena kompetensi wartawan kecil ini bukan diuji di ruangan ber-AC dengan soal pilihan ganda.


Kompetensi wartawan kecil ini diuji di Timor Timur ketika harus menjawab pertanyaan "Kita masih Indonesia atau tidak?" di tengah bendera setengah tiang. Diuji di hutan Irian Barat ketika harus tetap memotret Marten meski lapar. Diuji di Sampit ketika harus menengahi dua suku yang bertikai. Diuji di Aceh ketika harus mendengarkan pejuang tanpa menghakimi.


Wartawan kecil ini tidak punya gaji layak. Hanya panggilan jiwa sebagai pencatat sejarah. Menulis bukan untuk amplop, tapi agar kelak kalau anak cucu bertanya, "Kakek, Ayah dulu kerja apa?" Ada jejak digital yang bisa dibuka. Bahwa kakeknya pernah ada di pedalaman, pernah memotret Marten Urio dengan kamera Kodak, dan pernah percaya bahwa kompas itu masih ada.


Jika anak kecil tanpa baju di pedalaman saja masih menulis "Bangsaku Nusantaraku" di dinding kayunya, maka kita yang berdasi di kota, yang kartunya berlabel dan bergerombol, seharusnya lebih malu jika masih saling merendahkan sesama anak bangsa.


Karena pada akhirnya, wartawan itu bukan dinilai dari berapa banyak kantor dinas yang dia datangi setiap hari. Tapi dari seberapa jauh dia pernah pergi untuk mengerti arti kata Indonesia. Pejabat itu bukan dinilai dari tingginya pangkat, tapi dari seberapa dalam dia mau mendengarkan rakyatnya. Sama seperti pejuang Aceh yang hanya ingin didengarkan.


Sejauh apapun pasukan tersesat di hutan, selama masih memegang kompas yang sama, pasti akan menemukan jalan pulang.

Dan kompas itu bernama Pancasila.

Terima kasih, Marten.


Hormat,

Kang Oby Kresna - Redaksi RNO

Majalengka, 1 Oktober 2026

Lahir kesaktian Pancasila.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl