Gambar

Gambar

Di Negeri yang Kenyang Diskusi, tapi Lapar Akibatnya: Refleksi RNO di Balik Sunyinya Perut Rakyat

Tim Redaksi
Selasa, 20 Oktober 2026
Last Updated 2026-10-20T06:39:45Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini


INDONESIA, RNO — Ada yang aneh di negeri ini. Panggung diskusi tidak pernah sepi, para pengamat bertebaran di mana-mana, dan kritikus hadir di setiap channel. Semua pihak tampak pintar berbicara tentang data, teori, geopolitik, hingga investasi. Namun, ketika diajukan satu pertanyaan sederhana dengan jujur—kapan terakhir kali mereka membahas perut lapar di pelosok desa dan pinggiran kota? Jawabannya hanyalah kesunyian.


Tim The Real News One (RNO) telah berkeliling, mulai dari kawasan Lemahwungkuk di Cirebon hingga pelosok Lemahsugih di Majalengka, dan menyaksikan sendiri realitas pahit tersebut. Di gang-gang sempit perkotaan yang luput dari jangkauan peta digital, ada seorang ibu yang memasak nasi dicampur air demi mencukupi kebutuhan tiga anaknya. Di pelosok desa, ada seorang kakek yang harus menahan lapar lantaran beras bantuan telah habis sejak dua minggu lalu.


Perut mereka tidak butuh analisis rumit. Perut mereka tidak butuh seminar. Perut mereka butuh nasi.


Ironisnya, sedikit sekali pengamat maupun kritikus yang mau turun ke sana. Melalui penelusuran mendalam, RNO membedah tiga alasan utama di balik fenomena ini:


1. Perut Orang Miskin Tidak Menghasilkan Rating


Membahas persoalan orang lapar dinilai tidak cukup seksi untuk mendulang viralitas atau mendatangkan undangan sebagai narasumber di stasiun televisi nasional. Para elite dan pencari panggung jauh lebih memilih membahas konflik antar-elite, proyek bernilai triliunan rupiah, atau perdebatan tentang siapa yang salah dan siapa yang menang. Padahal, bagi rakyat di akar rumput, perdebatan tentang siapa yang salah sama sekali tidak penting; yang terpenting adalah apakah esok hari mereka masih bisa makan atau tidak.


2. Pelosok Desa Tidak Menyediakan AC dan Podium


Sebagian besar pengamat terbiasa tampil hebat di dalam ruangan ber-AC dengan paparan data yang tebal dan bahasa intelektual yang memukau. Namun, ketika diajak duduk di bale bambu sederhana di pinggiran kota—berbagi nasi liwet bersama buruh harian yang upahnya bahkan tak cukup untuk membeli susu anak—kenyamanan itu hilang. Di sana tidak ada podium untuk mendulang tepuk tangan, tidak ada kamera untuk pencitraan, melainkan hanya ada tatapan lapar yang jujur dan tak bisa dibohongi oleh deretan teori.


3. Membela Perut Rakyat Tidak Memiliki Anggaran


Inilah realitas yang paling pahit. Membela kaum marjinal adalah jalan yang sunyi tanpa fee, tanpa proyek, dan tanpa tepuk tangan meriah. Membela kelompok elite menyediakan panggung dan fasilitas, sementara membela perut rakyat hanya menyisakan kelelahan. Maka, tidak heran jika panggung publik kita ramai memperbincangkan masa depan bangsa, tetapi lupa menyelamatkan masa kini perut bangsanya sendiri.


Ujian Sesungguhnya di Dapur Rakyat


RNO tidak pernah anti terhadap kritik maupun para pengamat, sebab kritik yang konstruktif adalah vitamin bagi jalannya pemerintahan. Namun, jika kritik yang disuarakan tidak pernah sampai menyentuh perut rakyat yang lapar, maka kritik itu sejatinya hanya berputar-putar di dalam ruangan kalian sendiri.


Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak melahirkan pengamat, melainkan bangsa yang tidak membiarkan satu pun warganya tidur dalam keadaan lapar, sementara yang lain sibuk berdebat memperdebatkan definisi lapar itu sendiri.


Kepada para pengamat, akademisi, kritikus, dan aktivis yang kami hormati, turunlah sesekali ke lapangan—bukan untuk mencari pencitraan, melainkan untuk mendengar bunyi perut yang tidak pernah tercatat dalam statistik formal kalian. Di pelosok desa dan pinggiran kota besar, terdapat pelajaran berharga yang tidak akan pernah ditemukan di dalam buku-buku akademik: bahwa sepiring nasi hangat terkadang jauh lebih berarti daripada seribu kata-kata pintar.


Dan di situlah sesungguhnya esensi visi Majalengka Langkung Sae diuji—bukan di dalam ruang rapat paripurna yang dingin, melainkan di dapur-dapur rakyat yang apinya hampir padam.


Tim Redaksi: The Real News One (RNO) Suara Rakyat, Nalar Bangsa Kami Tidak Hanya Mengabarkan, Kami Merasakan.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl