MAJALENGKA, REAL NEWS ONE — Ada kabar baik hari ini. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Majalengka Kulon bersama Babinsa Sertu Rahmat Hidayat berhasil menyulap sisa makanan Program Makan Bergizi (MBG) menjadi pelet ikan dan pakan ternak. Hasil uji coba disebut "menjanjikan", sampah berkurang, dan warga diuntungkan.
Tepuk tangan dulu dong, Bestii.
Sekarang tarik napas. Dan mari sejenak merenung dengan kepala dingin.
Sebab di balik narasi "inovasi" yang digaungkan, terselip sebuah realitas pahit yang seharusnya membuat kita tertunduk malu: makanan yang digadang-gadang bergizi tinggi untuk generasi masa depan bangsa, nyatanya banyak tersisa, basi, dan berujung dilempar ke kolam ikan.
Dengan beroperasinya enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Majalengka Kota, anggaran negara digelontorkan dalam skala besar. Spanduk berkibar, seremoni digelar, dan pidato bertema "generasi emas" mengema setiap pekannya. Namun, di ujung rantai distribusi, berapa kalori yang benar-benar sampai ke perut anak-anak? Sisanya harus berputar haluan ke mesin pencetak pelet.
Ini bukan sekadar cerita efisiensi. Ini adalah potret telanjang sebuah kebocoran.
Mirisnya Logika Kita
Dulu, sampah organik dibuang begitu saja; kini kita memuji sisa makanan karena "berhasil disulap". Dulu, mubazir adalah hal yang dihindari; sekarang, kemubaziran justru dibungkus dengan istilah manis "ekonomi sirkular".
Luar biasa. Kita sepertinya sudah tiba di titik di mana kegagalan distribusi dan tata kelola justru diberi piala penghargaan atas nama inovasi.
Ketua LPM berkata benar bahwa limbah dapat diubah menjadi manfaat. Begitu pula Babinsa yang menilai langkah ini lebih baik daripada mencemari lingkungan. Kita sebagai bagian dari rakyat yang bernalar tentu sepakat dengan hal itu.
Namun, mari jujur pada nurani: apakah kita benar-benar bangga karena limbahnya terpakai, atau kita sebenarnya malu karena makanannya tidak habis? Apakah porsi tersebut bersisa karena basi atau memang tidak disukai sehingga anak-anak tidak memiliki selera untuk menyantapnya?
Anak-anak kita membutuhkan protein, zat besi, dan sayuran segar untuk tumbuh kembang mereka. Tetapi yang didapat di lapangan justru antrean panjang, sisa makanan yang menumpuk, lalu dikeringkan, ditepungkan, dan dicetak kembali. Anggaran negara yang diniatkan untuk mencerdaskan otak anak bangsa, pada akhirnya mampir dulu ke perut ribuan ikan lele di kolam warga.
Menghentikan Romantisasi Sisa
Wahai pembaca yang budiman, hari ini rasanya sulit menemukan pihak yang berani berkata lantang. Sebab, menyuarakan kebenaran sering kali terasa seperti menampar wajah sendiri.
Padahal, kita semua tahu jawabannya: jika program ini berjalan benar dan tepat sasaran, tidak akan pernah ada sisa makanan sebanyak itu hingga layak dijadikan bahan pelet. Jika menu yang disajikan sesuai, porsinya pas, dan distribusinya jujur, maka Babinsa dan LPM tidak perlu lembur memilah sampah demi menyelamatkan muka sebuah kebijakan.
Inovasi ini memang mulia. Tetapi ia lahir dari rahim sebuah luka—dan luka itu bernama kemubaziran.
Kita patut kagum pada dedikasi Iing dan Sertu Rahmat. Mereka bekerja dengan tangan kotor di lapangan demi membereskan celah dari kesalahan sistem. Mereka sukses mengubah sebuah aib menjadi karya. Namun di saat yang sama, kita juga harus cukup sadar diri untuk berhenti bertepuk tangan terlalu cepat.
Jangan sampai suatu hari nanti, anak cucu kita bertanya:
"Bu, dulu katanya ada program makan bergizi nasional. Kok nenek bilang, nasinya justru buat pakan ikan?"
Lalu jawaban apa yang akan kita berikan?
"Sayang nak, waktu itu kita terlalu sibuk bikin pelet."
Cukup sudah. Hentikan romantisasi di atas penderitaan sisa makanan. Benahi dapurnya, benahi akurasi datanya, dan luruskan kembali niat dasarnya.
Jika tidak, jangan heran jika inovasi terbaik kita ke depan bukan lagi mencetak generasi yang sehat, melainkan memuaskan ego para pejabat lewat tajuk berita "sukses menyulap sampah".
Salam hormat,
Suara Rakyat Nalar Bangsa
Redaksi RNO (The Real News One)
Ditulis bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang yang mendalam—agar suara ini sampai ke meja pengambil kebijakan tertinggi. 🇲🇨🙏🤲
Baca juga:


